07 Mei 2015

Siswa Dikelompokan Berdasarkan Kemampaun



Tak seorangpun di seluruh jagat raya ini menyangkal kehebatan The Doctor menggeber tunggangannya. Tujuh kali juara dunia, Valentino Rossi kini terpuruk, tak sekalipun naik podium. Semua terjungkal di kanvas sebelum waktunya, hanya dengan satu dua pukulan yang Mike Tyson lontarkan. Kini Mike Tyson sendiri terjerembab dalam berbagai kasus, nama besarnya hilang ditelan nyamuk dan dulu Joko Widodo seorang tukang kayu kini menjadi presiden.

Harap-harap cemas, hujan menghantui timbulnya banjir, kemarau mengakibatkan kurangnya asupan air. Satu-satunya harapan untuk menyambung hidup, bisa sirna bila Tuhan berkehendak lain. Bapakku seorang petani, yang menggantungkan hidup dengan bertanam padi. Terkadang panen melimpah dan berulang kali gagal panen akibat banjir atau kekeringan. Rasanya indah dilihatnya bila padi mulai menguning, tetapi tiba-tiba terdengar suara menggelegar bagai petir ketika tanaman kurang bersahabat alias gagal panen.

Berapapun hasilnya, betapapun kondisinya, semua dibawa pulang. Dirontokan dari jerami, dijemur berulang kali. Setelah gabah menjadi kering, dipisahkan antara gabah yang berisi dengan gabah yang gabuk. Semua hasil pemisahan ada manfaatnya, gabah yang berisi dijadikan beras untuk dikonsumsi sedangkan gabah yang gabuk untuk makanan ternak. Bakri nama bapakku, mampu menerima keadaan dan bisa memanfaatkan semuanya. Tak satupun yang di sia-siakan, tak ada yang dibuang dan tak ada yang dihinakan.

Mensia-siakan, membuang dan menghina suatu perbuatan pengecut. Berani berbuat tidak berani bertanggungjawab. Bodoh merasa pinter, lemah merasa kuat, salah merasa benar, jelek merasa baik dan kopral merasa jendral. Virus feodal telah menjangkiti kaum professional.

Apabila tidak mau bertanggungjawab terhadap gabah-gabah gabuk, mestinya tidak perlu ada perlakuan pemisahan dan pengelompokan. Jadikan satu lagi antara yang gabuk dan yang berisi, pastinya mereka yang dipisahkan tidak ada yang merasa di sia-siakan, tidak ada yang merasa dibuang, tidak ada yang merasa dihinakan dan tidak ada yang merasa dibanggakan. Antara ada dan tiada, kita sendiri yang mengadakan.

Berkali-kali terdengar keluhan, berpuluh kali terdengar hinaan, beratus kali terdengar ejekan dan beribu kali terdengar pelecehan yang ditujukan kepada yang gabuk. Mereka diadakan bukan untuk di rusak tetapi untuk diperbaiki.

“Aku datang karena diundang,” ujar Bento.
“Siapa yang mengundang?” tanya Caciem.
“Panitia Penerimaan Siswa Baru,” terang Bento.
“Untuk apa diundang?,” tegas Caciem.
“Bisnis…,” jawab Bento singkat.
“Kalau tidak ada yang datang?” tanya Caciem.
“Gurunya bubar… sekolahan tutup,” jelas Bento.
“Kok tutup?” kejar Caciem.
“Lha guru-guru mau ngajar apa?” tanya Bento.
“Waaaa.....iya…gurunya  ngajar bebek aja,” ungkap Caciem.
“Cas cis cus…,” ejek Bento.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post