07 Mei 2015

Guru Bersikap Sombong didepan Siswanya



Peristiwa itu sangat sulit aku lupakan walaupun sudah puluhan tahun terjadi, namun tak satupun teman sekolahku yang kuingat sampai sekarang. Tahun 1978 tepatnya aku duduk di kelas empat SD Negeri 2 Krakitan. Waktu itu pukul tujuh lebih tiga puluh menit, di kelas aku selalu bercanda bersama teman-teman sambil menunggu datangnya guru mengajar jam pertama.

Tiba-tiba aku dan teman-teman terkesima dengan kedatangan guru yang belum dikenal sebelumnya. Sosok yang asing bagiku, kumis tebal, kulit hitam, rambut sedikit gondrong, sorot matanya tajam dan  kurasa cukup angker. Setelah berada didepan kelas, guru baru tersebut memulai pelajaran dengan basa-basi bertanya “Iki kelas papat yo?”. Tanpa sedikitpun takut aku jawab spontan “Wis ngerti we takon”.

Mendengar jawabanku tersebut, semua temanku tertawa serentak sambil menoleh kearahku. Tak kusangka sebelumnya, guruku naik pitam dan membentak “Sopo sing ngomong mau?”.. Namun semua temanku terdiam, tak ada yang berani menyebutkan namaku. Selanjutnya guruku mendatangi teman-teman perempuan dan bertanya lagi dengan nada suara yang lebih keras “Jawab…sopo sing ngomong mau?’. Akhirnya salah satu temanku menjawa dengan sedikit gemetar “Caciem Pak”. “Mana Caciem”, kejar guruku. “Itu Pak duduk paling belakang”, jelas Poniyem sambil menunjuk kearahku.

Dengan amarahnya, guru tersebut mendekatiku dan bertanya “Anak’e sopo kowe”. Dengan gemetaran aku jawab “Anak’e Simbok Pak”. Mendengar jawabanku, guruku makin terbakar emosinya, merah padam mukanya, melotot matanya, njegrak kumisnya dan mengayunkan tangan kanannya dua kali PLAK-PLAK. “Em…..mukaku kena pukul dua kali”. Kemudian tidak jadi memperkenalkan diri, tidak jadi mengajar dan guruku meninggalkan kelas tanpa cas cis cus.

Seketika guruku pergi, serentak temanku bersorak “Waaaa…Caciem hebat, Caciem… jagoan”. Teman-teman mengelu-elukan, karena aku dianggap pahlawan yang berhasil mengusir guru yang berwatak congkak, angker, sombong, galak, kiler. Hari-hari berikutnya sampai aku lulus Sekolah Dasar sebagai juara pertama, guru tersebut tidak mau lagi mengajar kelasku.

Setelah aku renungkan, akulah yang salah, aku tidak sopan, berani melawan guru dan konyol. Mestinya guru itu di tiru, di gugu dan dihormati dengan sepenuh hati, karena  yang memberikan segala sumber ilmu pengetahuan dan pendidikan budi pekerti luhur.

Tetapi tidak sepenuhnya aku salah, sebab karakter guru banyak yang kurang baik. Dari awal mengajar sampai akhir jam pelajaran selalu pasang badan. Tak satupun guru yang mau mengakui suatu kesalahannya. Siswa bagaikan musuh selalu dipihak yang salah dan guru menganggap dirinya selalu yang paling benar bagaikan raja.

“Siapa nama gurumu itu?” tanya Bento.
“Pak Suyono,” jawab Caciem.
“Apakah sekarang masih ada guru yang congkak seperti itu?” tanya Bento.
“Banyak banget,” tegas Caciem.
“Angker, galak atau sombong?” kejar Bento.
“Waaaaah………komplit,” jelas Caciem.
“Muridnya ketakutan?” ujar Bento.
“Waaaaah….Cas cis cus,” guman Caciem.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post