07 Mei 2015

Guru Berjiwa Besar



Diusia yang baru sepuluh tahun pada era 1945, Sadinem sudah malang melintang diberbagai kota Jawa-tengah, Jawa-Timur dan Yogyakarta. Dengan menumpang kereta barang, perempuan tersebut tak pernah punya rasa kuatir dalam membantu kedua orang tuanya yang membuka warung kecil-kecilan di rumah. Ke Jogja belanja sembako, ke Solo belanja batik, ke Purwokerto jualan telor asin, ke semarang belanja bumbu dapur dan ke Surabaya belanja kain.

Wanita yang buta huruf tersebut bekerja dengan ihklas demi ketiga adik-adiknya bisa bersekolah. Satu-satunya adik laki-laki telah menjadi dosen di IKIP Yogyakarta yang sekarang bernama UNY (Universitas Negeri Yogyakarta).

Setelah menikah dengan Bakri mempunyai anak tujuh, empat laki-laki dan tiga perempuan. Ketujuh anaknya semua disekolahkan dan empat diantaranya menyandang gelar sarjana. Walaupun belum pernah mengenyam pendidikan, wanita yang bersuamikan petani tersebut ingin melepaskan diri dari lingkungan yang masih terbelakang. Sadinem bercita-cita agar semua anaknya bisa bersekolah setingi-tingginya dan memjadi pekerja kantoran.

Di usianya yang sudah setengah abad lebih, Sadinem makin rajin ibadah, setiap habis sholat tak lupa selalu berdoa agar dirinya mati khusnul chotimah tanpa melalui sakit yang berkepanjangan. Wanita yang mempunyai cucu dua belas dan cicit tiga tersebut, tidak ingin mati yang didahului dengan menderita sakit berkepanjangan, karena hanya akan merepotkan orang lain. Lebih baik mati mendadak dari pada sakit berlama-lama baru kemudian mati.

Sepanjang hidupnya Sadinem mencurahkan segala kemampuannya tanpa pamrih demi kebahagiaan kedua orang tuanya, adiknya-adiknya dan semua anaknya. Wanita kampung ini bagaikan matahari menyinari dunia, seperti syair dalam lagu : “Kasih Ibu kepada beta/tak terhingga sepanjang masa/harap memberi tak harap kembali/bagaikan surya menyinari dunia”.

Senin Pahing 15 Nopember 2010 pukul 05.00 Wib. sehabis sholat Subuh terjatuh di depan pintu dapur, dan hari itu juga Sadinem meninggal pukul 13.00 Wib. di RSI Klaten. Do’a Mbokku terkabul karena meninggal tanpa mengalami sakit yang berkepanjangan alias mati mendadak.

Walaupun tidak ada mandor, walaupun tidak dijaga pengawas, walaupun penghasilan kecil, walaupun sangat capek, walaupun murid-murid tidak berani protes mestinya berkeja dengan sungguh-sungguh dan ikhlas sepenuh hati.

“Emang ada yang kerjanya main-main?’ tanya Bento.
“Buaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaanyak,” jawab Caciem.
“Ngajarnya gimana ?” kejar Bento.
“Siswa di kasih tugas, tinggal pergi,” jelas Caciem.
“Terus gimana lagi?” tanya Bento.
“Masuk selalu terlambat,” terang Caciem.
“Weh...ngajarnya ngawur itu,” ungkap Bento.
“Sudah membudaya,” tambah Caciem.
“Itu tidak professional namanya,” guman Bento.
“Dari dulu,” tegas Caciem.
“Kan pehlawan tanpa tanda jasa,” ujar Bento.
“Pahlawan Cas cis cus….,” gerutu Caciem.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post