07 Mei 2015

Siswa Dihukum Sebagai Sanksi dari Perilakunya



Sekolahan merupakan tempat menuntut ilmu dan pendewasaan jiwa. Tetapi tidak bagi Caciem, sekolahan sebagai tempat pelampiasan emosi dan ekspresi jiwa. Dimana seseorang menuntut ilmu, maka hasil dari menuntut ilmu akan dilampiaskan dan diekspresikan di tempat dimana seseorang tersebut ada kesempatan.

“Ma, buatkan minum susu, cepat…”, perintah Aji kepada Mamanya.
“Dik, sabar…siapa yang ngajari perintah seperti itu ?”, tanya Ibunya.
“Bu guru kalau perintah Aji juga begitu”, jelas Aji.

Sepenggal dialog diatas hanya sebagian kecil ekspresi Aji dari hasil menuntut ilmu di salah satu lembaga pendidikan. Seseorang alumni dari mana, bisa diketahui karakternya ketika sedang bekerja atau cara menanggapi suatu masalah. Sesuatu yang pernah dilihat, didengar dan dirasakan akan dilampiaskan dan diekspresikan kembali ketika ada kesempatan.

Seberapa tinggi tingkat kedisiplinan guru, seberapa baik cara mengajarnya, seberapa besar keikhlasan guru mendidik siswanya, seberapa luas pengetahuannya, seberapa tinggi tingkat kecerdasannya, seberapa jauh kemampuan memahami pribadi siswa, seberapa tepat dalam memilih model pembelajaran, seberapa kuat kemampuan untuk mengevaluasi, seberapa keras suaranya, seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk presentasi, seberapa besar sikap sosialnya dan seberapa tinggi tingkat kejujurannya.

Siswa dilempar sepatu, siswa dilempar penghapus, siswa dipukul dengan penggaris kayu, siswa dipukul dengan buku, siswa ditendang, siswa diusir dari kelas, siswa dihukum berdiri didepan kelas, siswa dihukum berdiri ditengah lapangan upacara, siswa dihukum lari, siswa dihukum push up, siswa dihukum menulis berulang-ulang dengan kalimat yang sama, siswa dihukum pulang untuk mengambil buku yang tertinggal, siswa dihukum mencabuti rumput halaman, siswa dihukum membersihkan WC, siswa dihukum tidak boleh masuk kelas karena terlambat, siswa dihukum tidak boleh masuk sekolahan karena datangnya terlalu awal.

Guru melakukan seperti tersebut diatas, karena sewaktu masih sekolah pernah melihat dan merasakannya, maka siswanya  juga akan melakukan hal yang sama ketika ada kesempatan.

Segala hal yang dilakukan guru akan ditiru oleh siswanya. Guru merupakan sebuah obyek yang layak dijadikan model siswa untuk mengekspresikan diri dalam kehidupan sehari-hari. Suatu sekolah yang guru dan karyawannya berkarakter baik, maka akan menghasilkan anak didik dengan karakter yang kuat dan cerdas.

“Dulu karakter gurumu baik ?” tanya Bento.
“Lumayan…,” jawab Caciem.
“Dulu sering dihukum ?” Kejar Bento.
“Lumayan…,” terang Caciem.
“Ditempat kerjamu sekarang ada hukum-menghukum ya?” tanya Bento.
“Lumayan…,” tegas Caciem.
“Kamu pernah menghukum siswa ?” kejar Bento.
“Lumayan…,” jelas Caciem.
“Kok lumayan terus jawabmu ,” guman Bento.
“Caaaas…Ciiiiiis…Cuuuuus,” gerutu Caciem.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post