07 Mei 2015

Guru Mengajar Tanpa Perencanaan



Hujan mulai turun walaupun masih jarang, terkadang seminggu turun hujan hanya dua kali pertanda musim tanam telah tiba. Para petani mulai mempersiapkan diri dengan memperbaiki peralatan pertanian, mempersiapkan benih yang akan ditanam dan membuka tabungan untuk biaya pengolahan tanah dan penanaman. Namun tak sedikit yang tidak siap menghadapi musim tanam, mereka kebingunngan mencari dana dalam menghadapi musim tanam.

Beberapa petani datang kerumah Bakri untuk mencari pinjaman uang. Mereka termasuk petani yang tidak mempersiapkan diri, sehingga masa tanam sudah dekat tidak mempunyai dana sedikitpun. Bingung, gagap, emosi, mudah tersinggung dan marah-marah tanpa sebab. Siapapun yang mengajak bercanda, selalu ditanggapi dengan sikap konyol.

Apabila segala sesuatu telah disiapkan sebelumnya tentu tidak perlu bingung. Bakri contohnya seorang petani yang beristrikan Sadinem mempunyai Konsep yang baik, perencanaan yang matang serta management yang akurat. Peralatan pertanian lengkap, benih tersedia dan dana lebih dari cukup, malahan sebagian tabungannya bisa dipinjamkan ke beberapa petani lain.

Bakri yang tidak lulus Sekolah Rakyat tersebut mampu mensekolahkan ketujuh anaknya hingga empat anaknya meraih gelar sarjana dari perguruan tinggi ternama di Yogyakarta. Sampai tulisan ini dirilis, almarhum Bakri namanya selalu dikenang masyarakat sebagai sosok petani yang bertangan besi, sedikit bicaranya, banyak karyanya, luas wawasannya, kreatif inisiatifnya, tajam inspirasinya, jelas konsepnya dan jujur perangainya.

Bicara masalah persiapan sebelum kerja, Bakri ayahku jagonya. Sang guru tani yang perlu dicermati sebagai perbandingan antara management petani dengan management guru professional. Tidak sedikit guru yang mengajar tanpa konsep yang jelas dan tanpa perencanaan yang baik. Sekedar melaksanakan rutinitas sehari-hari yang telah membudaya dan mengakar.

Tidak merasa bersalah apabila datang terlambat, masuk kelas dengan mengulur-ulur waktu, didepan kelas bicaranya gagap, bingung menentukan materi pembelajaran, tujuan pembelajaran tidak jelas, hasil pembelajaran tidak pernah dievaluasi, metode pembelajaran membosankan, menagement waktu tidak tepat, memberi tugas tanpa aturan, tugas siswa tidak dievaluasi, hasil evaluasi dirahasiakan, pamer harta kekayaan, suka menghina guru lain, selalu memuji diri sendiri alias sombong, meninggalkan kelas tanpa tujuan yang bermanfaat, terlalu banyak ceramah yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, salah satu siswa  selalu menjadi obyek pembicaraan, menginspirasi siswa dengan cerita negatif, menarik simpati siswa dengan humor  porno, memperlakukan siswa tidak manusiawi dan siswa selalu dipihak yang di salahkan

“Masak begitu Bro,” sanggah Bento.
“Ya begitulah,” jawab Caciem.
“Kompetensinya kayak apa?” tanya bento.
“Ya begitulah,” jelas Caciem.
“Profesionalnya macem mana?” kejar Bento.
“Ya begitulah,” tegas Caciem.
“Haram dong gajinya,” ungkap Bento.
“Ya begitulah,” jawab Caciem.
“Begitulah…begitulah terus…Cas cis cus,” gerutu Bento.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post