07 Mei 2015

Guru Pamer Harta di Depan Kelas

Meski pernah sebagai kepala Negara, tak ada kesan mewah yang melekat pada diri Jose Mujica. Mantan presiden Uruguay itu memilih menyetir sendiri mobil kesayangannya, Volkwagen Beetle keluaran 1987 warna biru saat menghadiri pelantikan presiden baru Uruguay, Tabare Vasquez, Minggu 1 Maret 2015. Mujica memang dikenal sebagai presiden yang bersahaja. Menolak sopir pribadi dan menyetir sendiri mobil seharga 17 juta rupiah. Kesederhanaannya itu membuat Mujica dijuluki sebagai presiden termiskin dunia.

Kemana-mana mengendarai sepeda angin, berpakaian lusuh, bersandal jepit, bertopi laken dan bersenjatakan sabit untuk mencari rumput. Bapak tujuh anak tersebut seorang petani yang hanya berpendidikan Sekolah Rakyat (SR). Sepintas kelihatan miskin, padahal memiliki satu hektar kebun kelapa, satu hektar hutan jati, satu hektar sawah, lima unit rumah diberbagai kota, enam mobil, dua belas motor dan tabungan ratusan juta rupiah diberbagai bank di Indonesia. Orang yang bernama lengkap Bakri Hadi Sumarto tersebut tidak kufur, tidak kikir dan tidak pernah menceritakan kepada orang lain tentang harta kekayaannya. Hanya saudara dan tetangga dekatlah yang tahu akan kekayaannya.

Orang kaya adalah orang yang bisa menyembunyikan hartanya. Kekayaan tidak perlu dipublikasikan, karena bisa menimbulkan fitnah bagi orang yang lain, bisa menimbulkan iri dengki bagi orang miskin, bisa dianggap kufur karena harta kekayaan bukan milik kita sepenuhnya. Fakir miskin mempunyai hak atas harta kekayaan yang dimiliki orang kaya, bisa  dalam bentuk sumbangan sosial, infak, sodaqoh dan lainnya.

Setiap mengajar, guru-guru tersebut bercerita “anak-anak…Rumahku sangat lebar, selebar lapangan sepak bola. Sawahku sebelas pathok. Mobilku harganya paling mahal, diantara mobil milik guru-guru disini. Kemarin aku baru saja membeli cincin emas seharga lima juta. Jam tanganku harganya dua juta. Diluar kota, rumahku ada dua puluh kamar. Setiap minggu aku selalu shoping di super market. Bulan depan akan membangun rumah lagi, sebagai peristirahatan terakhirku”, jelas guru didepan siswanya.

Sementara siswa disuruh mencatat dan mengerjakan soal-soal, guru duduk didepan kelas, kedua tangannya masing-masing memainkan handphonenya. “Bu…soal-soal sudah selesai dikerjakan, mari dibahas”, ujar salah satu siswa. “Nanti dulu, ibu baru BBMman”, jawab guru. “Bu…cepet, ntar waktunya nggak cukup”, tegas siswa. “Sabar to…bentar lagi kanapa sih”, jelas guru. Akhirnya, sampai waktu jam pelajaran habis, soal-soal tersebut belum sempat dibahas dan guru tersebut meninggalkan kelas tanpa cas cis cus.

Ironi seorang guru yang mestinya mengajarkan hidup sederhana, tetapi justru disaat jam mengajar selalu menceritakan harta kekayaan yang dipunyai di depan siswanya. Kontras rasanya, karena siswanya sebagian besar dari keluarga miskin.

“Emang siapa itu?” Tanya Bento.
“Banyak,” jawab Caciem singkat.
“Ya nggak papa, kalau bener-bener orang kaya,” ungkap Bento.
“Lha mau ngajar atau pamer harta,” balik Caciem.
“Cerita itu bisa memberi inspirasi siswa, agar kelak jadi orang kaya,” jelas Bento.
“Inspirasi Cas cis cus…,”guman Caciem.          

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post