27 November 2009

Gonjang-Ganjing Pendidikan Nasional


Ada apalagi dunia pendidikan nasional Indonesia, setelah dilantiknya Mendiknas yang baru yaitu Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA. Program kerja seratus hari mendiknas akan mengfokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan nasional. Masayarakat sangat berharap dengan hadirnya praktisi pendidikan dengan segudang pengalaman dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan.

Sementara ini kualitas pendidikan nasional sangat memprihatinkan dibanding Negara-negara berkembang lainya. Berdasarkan survey bahwa kemampuan membaca siswa SD menduduki urutan ke 26 dari 27 negara yang di survey, serta kemampuan matematika siswa SMP menduduki urutan ke 34 dari 39 negara yang di survey. (Suara Merdeka, 2 April 2009).

Belum genap seratus hari Mendiknas bekerja, kini ada khabar mengejutkan dalam dunia pendidikan bahwa Mahkamah Agung (MA) melarang pemerintah mengadakan Ujian Nasional (UN) sebagai syarat kelulusan bagi siswa SLTP dan SLTA. Dengan demikian gugurlah Permendiknas Nomor 75 Tahun 2009 tentang Ujian Nasioanal Bagi SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB serta SMK Tahun Pelajaran 2009/2010.

Budaya yang terjadi pada pendidikan nasional bahwa ganti menteri ganti kurikulum, ternyata tahun pelajaran 2009/2010 benar-banar terjadi perubahan secara foundamental dengan turunnya Keputusan MA yaitu Ujian Nasional harus ditiadakan. Keputusan MA ini tidak hanya membuat kelimpungan Mendiknas dan Ketua Badan Standard Nasional Pendidikan (BSNP), tetapi juga membuat guru-guru dan peserta didik timbul pikiran dan perasaan bingung.

Ditiadakannya UN tidak serta merta kualitas pendidikan nasional menjadi lebih baik, namun akan timbul masalah yang sangat besar. Dampak yang paling esensial adalah pengaruh perubahan terhadap psikologis para guru dan peserta didik. Karena ada UN atau tidak mereka belum tahu pasti, mestinya mereka tetap melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya. Kenyataan di lapangan, guru dan peserta didik mempunyai persepsi yang berbeda-beda dalam mensikapi UN Tahun Pelajaran 2009/2010.

Guru tak lagi punya beban berat dalam usaha meluluskan siswanya, kini guru mengajar tanpa target kurikulum, yang penting datang kesekolah dan mengisi daftar hadir selanjutnya pulang lebih awal karena kegiatan pelajaran tambahan telah tiada. Dengan demikian beban guru menjadi lebih ringan dan secara otomatis kinerjanya menurun.

Semula UN dipandang seperti momok yang menakutkan dan menyeramkan, kini siswa tak lagi takut dengan UN. Biasanya pulang sekolah langsung mengikuti bimbingan belajar, sekarang pulang sekolah bisa kumpul-kumpul di rumah teman atau tidur pulas di rumahnya sendiri. Orang tua tak lagi menyuruh anaknya untuk belajar, tetapi sekarang anaknya duduk berdampingan dengan kedua orang tuanya menghabiskan waktunya di depan Televisi bersama sinetron.

Anak sekolah biasanya berduyun-duyun menuju lembaga bimbingan belajar, namun dalam waktu dekat ini dipastikan lembaga tersebut gulung tikar, karena tak ada lagi anak sekolah yang membutuhkan pelajaran tambahan. Akibatnya, akan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang cukup banyak dan tak lama lagi akan terjadi penambahan pengangguran yang cukup signifikan.

Orang tua siswa yang paling diuntungkan, karena tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk belajar anaknya pada bimbingan belajar atau les di sekolahnya masing-masing. Disamping itu orang tua tak perlu was-was lagi terhadap kemampuan anaknya dalam mengakhiri sekolahnya.

Sekarang tak ada lagi pemandangan sholat bersama, do’a bersama dan mendatangkan tokoh spiritual ke sekolah, tetapi yang terlihat pemandangan wajah anak sekolah yang berseri-seri. Kegiatan belajar mengajar seperti apapun dipastikan semua lulus dengan nilai memuaskan walau kualitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara nasional, sebab hasil ujian akhir sekolah tidak berstandar nasional.

Menilik pada fenomena tersebut, kualitas pendidikan nasional tak akan bertambah baik tetapi secara berangsur-angsur akan mengalami kemunduran, sebab guru tak perlu giat mengajar dan siswa tak perlu rajin belajar. Kalau di semua lini pendidikan tak ada target kurikulum yang harus dicapai, maka pendidikan nasional semakin carut marut.

Dibalik itu semua ada yang membanggakan yaitu meningkatnya kualitas kejujuran dalam dunia pendidikan. Tidak ada lagi guru curang, guru membocorkan soal ujian, siswa mencontek dan lain sebagainya.

Penulis Asim Sulistyo, S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 3 Bayat, Klaten
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post