16 Agustus 2009

Guru Sebagai Teman Belajar Siswa

Mestinya pukul 07.00 WIB. pelajaran sudah dimulai, namun sampai pukul 07.10 WIB. guru yang ditunggu siswa belum juga datang ke sekolah. Kemudian salah satu guru piket memasuki kelas tersebut menggantikan guru mata pelajaran Matematika yang tidak bisa datang mengajar. Salah satu siswa bertanya kepada guru piket “mengapa guru Matematika tidak datang ?”, guru piket menjawab “guru matematika tidak bisa datang mengajar karena sedang sakit”. Mendengar jawaban guru piket tersebut, spontan semua siswa bersorak kegirangan bahkan ada yang bernyanyi sambil berjoget di dalam kelas.

Jarum jam baru menunjukan pukul 10.00 WIB. tiba-tiba terdengar suara bel panjang menunjukan bahwa jam pelajaran telah usai atau semua siswa dipulangkan lebih awal. Hampir 75% siswa di sekolah tersebut sangat senang dengan dipulangkan lebih awal, yang lebih mengherankan ada salah satu kelas yang semua siswanya meluapkan kegembiraan dengan bersorak-sorak karena ulangan harian pelajaran Fisika dibatalkan. Ulangan Fisika dibatalkan karena ada kerabat guru yang meninggal dunia. Sekolah dipulangkan lebih awal sebab guru dan karyawan akan pergi melayat ke kerabat guru tersebut.

Fenomena ini selalu muncul di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Ketika gurunya sakit, kena kecelakaan, rapat, ada keluarga yang meninggal dan lainnya siswa dipastikan merasakan kegembiraan yang luar biasa. Hal ini bukan hanya dialami pelajar sekarang tetapi penulis juga merasakan ketika masih sekolah dulu. Berarti dari tahun 1980-an sampai sekarang masih sama, tidak ada perubahan yang siqnifikan dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Siswa cepat bosan mengikuti pelajaran, siswa merasa seperti di pasung di dalam kelas setiap hari. Guru dianggap seperti binatang buas yang siap menerkam siswa setiap saat.

Guru yang di senangi siswanya…
Rektor IKIP PGRI Semarang Dr. H. Sulistyo, M.Pd. mengungkapkan jadilah guru yang disuka dan ditunggu-tunggu murid. Ketika guru tak kelihatan, para siswa mencarinya. Jika gurunya sakit, dia di jenguk dan do’akan bersama-sama semoga cepat sembuh dan bisa mengajar lagi. Jangan jadi guru yang hanya duduk memegang buku sambil menerangkan (Suara Merdeka, 1 Agustus 2009).
Menjadi guru yang bisa disenangi siswanya bahkan kehadirannya dinanti-nantikan tidaklah mudah. Guru perlu pendekatan secara emosional kepada semua siswa. Guru harus mengenal siawanya mengenai : namanya, asalnya, keluargannya, hobynya, teman dekatnya bahkan sampai mengetahui watak anak tersebut.

Guru mata pelajaran Sains momok siswa…
Berbagai cara, metode, system pembelajaran sudah diujicobakan agar siswa senang dengan pelajaran sains (Matematika dan IPA). Guru sering diberi pembinaan, siswa setiap tahun ganti namun pelajaran sains tetap menjadi masalah utama dunia pendidikan. Guru selalu menjadi objek kesalahan padahal yang lebih utama adalah perguruan tinggi sebagai produsen guru. Perguruan tinggi kependidikan atau LPTK tidak ada yang mengakomodasi kurikulum tentang pendidikan hubungan emosional antara guru dan siswa. Sehingga, guru tidak mengetahui cara mengajar dengan pendekatan emosional. Guru didepan kelas layaknya superior : serba bisa, paling pandai, angker, bahkan guru merasa seperti raja yang mana kata-katanya harus diturut siswanya (Sabdo Pandito Ratu).

Namun, ada beberapa guru mata pelajaran yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu siswanya, yaitu guru mata pelajaran Olah Raga, Kesenian dan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi). Apablia guru mata pelajaran tersebut tidak hadir, siswa kecewa bahkan ada yang marah-marah hingga minta ganti jam pelajaran di waktu lain. Mata pelajaran tersebut dianggap benar-benar pelajaran yang paling favorit, tidak membosankan dan bisa menghibur semua siswa. Disamping metode pembelajaran selalu kontekstual, biasanya guru mata pelajaran tersebut ketika mengajar selalu diselingi dengan humor sehingga suasana kelas tidak menegangkan. Tapi sayang, pelajaran Olah Raga, Kesenian dan TIK dianggap mata pelajaran grade 3 alias mata pelajaran yang tidak penting.

Janganlah membuat siswa menjadi senang, apabila gurunya tidak hadir. Kalau masih ada yang seperti itu, berarti guru tersebut tidak berhasil mengajar dengan baik. Dengan demikian yang perlu di sikapi adalah melakukan pembaruan kurikulum perguruan tinggi pencetak guru. Perguruan tinggi produsen guru sampai kini sudah tidak relevan lagi dalam dunia pendidikan. Selain mengajar menggunakan metode hubungan emosional antara guru dan siswa, pembelajaran modern harus menggunakan pendekatan metode kontekstual. Jadi siswa belajar seperti mengalami sendiri dalam dunia nyata. Maka diperlukan guru yang benar-benar menguasai materi pelajaran baik secara teori maupun secara kenyataan. Jadilah guru sebagai teman belajar yang paling setia, dicintai dan dirindukan siswanya.

Penulis Asim Sulistyo
Pemerhati Pendidikan dan Masalah Sosial
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten
Benar-benar kejadian…
Artikel di tulis selesai Pukul 23.00 WIB, Tanggal 11 Agustus 2009,
Pukul 03.00 WIB, Tanggal 12 Agustus 2009 anaknya guru Fisika meninggal.
Siswa ESTIB bersuka ria karena sekolah dipulangkan pukul 09.00 WIB, Tanggal 12 Agustus 2009.


0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post