07 Agustus 2009

Pelajar Indonesia dan Kreativitas Negatifnya

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, MSc. MBA. mengungkapkan keprihatinannya bahwa inovasi dan kreativitas teknologi informasi bangsa Indonesia dalam hal positif hanya menduduki peringkat di atas 100. namun kreativitas dalam hal negative (hecker dan sejenisnya) masuk dalam peringkat lima besar dunia bahkan tiga besar dunia.

Inovasi dalam dunia baru kini dan masa yang akan datang terdiri atas aspek people, proses dan teknologi. Pada aspek people, orang dibentuk oleh lingkungannya. Pada masa millennium ini teknologi informasi sudah sangat familiar termasuk anak-anak (Suara Merdeka, 27 Juli 2009).

Dahulu… pelajar Indonesia punya rasa malu untuk melanggar tata tertib sekolah. Banyak anak sekolah yang keluar atau putus sekolah karena melanggar tata tertib sekolah atau melakukan perbuatan yang memalukan yang diketahui pihak sekolah. Beberapa sekolah kekurangan siswa baru dikarenakan sekolah bersangkutan terkenal kalau siswanya sering berkelai. Dan orang tua enggan menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

Sekarang…sebaliknya, pelajar bahkan mahasiswa merasa bangga dan tidak punya rasa malu lagi untuk berbuat negatif. Tawuran pelajar, tawuran mahasiswa, demo anarkis, pesta miras, pesta sex dan lain sebagainya, sudah menjadi tren dunia pelajar masa kini di Indonesia. Pihak sekolahpun tidak bisa berbuat banyak apabila peserta didiknya terlibat hal-hal negatif. Apabila siswa dikeluarkan dari sekolah, pihak sekolah dianggap melanggar HAM.

Seiring berkembangnya teknologi global, perbuatan-perbuatan negatif mudah diakses dan disebar luaskan ke segala komunitas. Sengaja atau tidak, pelajar tersebut melakukan perbuatan negatif tentunya dengan penuh kesadaran. Ada video porno yang direkam dengan HP, perkelaian sesame siswa yang di fasilitasi gurunya, bahkan guru yang memukuli siswanya berhasil direkam oleh siswanya dan disebar luaskan ke masyarakat.

Manfaat Teknologi Informatika…
Teknologi Informatika diciptakan dengan tujuan mulia yaitu untuk memberikan kemudahan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemajuan zaman dan teknologi membuat hubungan manusia dengan manusia diseluruh dunia makin terasa dekat bahkan hampir tampa jarak. Suatu pekerjaan yang dulu dikerjakan oleh 10 orang dengan memakan waktu cukup lama, kini bisa dikerjakan satu orang hanya dengan waktu sesaat. Begitu besar jasa seorang pencipta teknologi informatika, sementara si-pengguna tidak tahu siapa yang menciptakannya.

Teknologi Informatika bagi pelajar Indonesia…
Mudahnya dalam menggunakan teknologi dan dengan harga yang terjangkau oleh pelajar, teknologi informatika cepat merambah di kalangan pelajar Indonesia mulai dari SD sampai mahasiawa, bahkan anak ply group di lingkungan kota besar sudah mendapatkan pembelajaran teknologi ini. Anak seumur SD, SMP dan SMA sangat mudah menyerap informasi yang sedang berkembang. Anak SD bisa berlama-lama di depan komputer untuk menikmati segala informasi yang difasilitasi dengan jaringan internet. Apa yang dikehendaki, mensin pencari akan melayaninya, sepanjang permintaan sesuai dengan stok data dari jasa penyedia layanan.

Namun kemampuan pelajar Indonesia yang sangat cepat tersebut tidak diimbangi dengan pendidikan mental yang cukup. Pelajar menggunakan teknologi informatika bukan untuk kepentingan hal-hal yang positif, tetapi lebih sering menyalahgunakan teknologi untuk kepentingan hal-hal yang negatif. Pelajar mengkses internet bukan untuk belajar yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah, tetapi lebih senang mengakses situs-situs porno. Berdasarkan survey bahwa bangsa Indonesia menduduki urutan ke-5 terbesar di Asia sebagai pengakses situs porno. Sehingga membuat sebagian orang tua siswa melarang anaknya berhubungan dengan internet. Karena orang tua tersebut sangat kuatir dengan kondisi mentalnya. Bahkan ada yang beranggapan bahwa internet itu porno.

Dengan demikian pemerintah melalui Departemen Pendidikan secepatnya perlu melakukan revisi kurikulum. Kurikulum yang sudah berjalan hanya mengutamakan aspek koqnitif (pengetahuan), sementara aspek afektif yang memberikan ruang pengembangan rasa (estika/estetika) tidak pernah disentuh. Hal ini menjadikan pelajar Indonesia tidak punya rasa malu untuk berbuat negatif, yang timbul adalah kreativitas negatif sementara kreativitas positif hanyalah sebuah impian.

Penulis Asim Sulistyo
Pemerhati Pendidikan dan Masalah Sosial
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post