14 Maret 2015

Guruku Lupa Diri, Mengajar Asal-Asalan

MbokSadinem sosok wanita besi sekelas Kartini. Bangun sebelum ayam berkokok, dan pergi kepasar dengan berjalan kaki setelah menunaikan sholat Subuh. Beban di gendongan tidak kurang dari empat puluh kilogram membuat tubuh wanita tersebut agak bongkok. Rutinitas itu dilakukan sejak Mbok Sadinem masih berumur lima belas tahun sampai berumur tujuh puluh satu tahun. Disiplin dalam bekerja demi ke tujuh anaknya yang sedang menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan.

Wanitaberanak tujuh tersebut tidak pernah lupa dengan hari kelahiran semua anaknya. Anak-anak tetangga dekat diundang kerumah sekedar diberi nasi sayur dan seperempat telur godok sebagai lauknya sebagai pertanda hari kelahiran anaknya agar terhindar dari mara bahaya dan tercapai cita-citanya. Seremonial sederhana tersebut dinamakan “Mong Mong” yang dilakukan setiap tahunnya tujuh kali secara tertib dan disiplin. Begitulah Mbok Sadinem cara merayakan hari ulang tahun ketujuh anaknya. Saat umur mencapai enam puluh tahun, sudah mengikuti wisuda sarjana anak-ananya lima kali walaupun Mbok Sadinem buta huruf.

Butahuruf bukan suatu halangan bagi Mbok Sadinem untuk memberikan contoh disiplin dan berintegritas yang tinggi. Alhasil semua anak-anak tumbuh kembang menjadi orang yang beriman, disiplin dan berkarakter. Itulah cerita singkat tentang Mbok’e Caciem.

Siswa sering dianggap tidak disiplin. Disuruh pulang mengambil buku pelajaran yang tertinggal, diusir keluar kelas karena belum mengerjakan tugas, disuruh berdiri ditengah lapangan karena lupa membawa atribut. Dihukum lari mengitari lapangan karena tidak berangkat ekstrakurikuler, disuruh duduk di lantai karena tidak seragam, disuruh pulang karena rambutnya gondrong, disuruh bersihkan toilet karena datang terlambat, disuruh memanggil orang tua kesekolah karena membolos, disuruh menulis ratusan kalimat yang diulang-ulang karena berbuat gaduh, disuruh berdiri didepan kelas karena tidak bisa mengerjakan soal, siswa di suruh menemui guru BK karena salah jadwal, siswa tidak dapat kartu peserta ujian karena administrasi belum lunas.

Lupapada diri sendiri itu biasa, berkaca pada orang lain itu mustahil. Terkadang guru berteriak sangat keras dan diulang-ulang dengan menyebut kata “Disiplin”, padahal sejatinya bisa dianggap omong kosong belaka. Guru datang terlambat, guru masuk kelas terlambat, guru pulang duluan, guru meninggalkan kelas, guru tidak datang mengajar tanpa ijin, guru mengajar tanpa persiapan, guru mengajar tanpa perencanaan, guru mengajar tanpa andministrasi, guru tidak pernah melakukan evaluasi, guru tidak pernah melakukan analisis, guru tidak mau mengembangkan diri, guru tidak menguasai materi pelajaran, guru tidak punya dokumen administrasi, guru lupa jadwal mengajar, guru tidak pernah ikut upacara.

“Tambah satu ya”, usul Caciem.
“Tambah apalagi”, tegas Bento.
“Guru tidak bisa menilai”, ungkap Caciem.
“Ah…masak begitu”, kejar Bento.
“Kurikulum ‘13, banyak guru yang tidak punya nilai sikap dan ketrampilan”, terang Caciem.
“Hah…terus cari nilai dimana?”, tanya Bento.
“Cari di bak sampah”, jawab Caciem.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post