10 Maret 2015

Guru Mengajar Buta Standard Proses



Akumemelihara ikan di kolam sempit dengan ukuran panjang seratus lima puluh sentimeter, lebar sembilah puluh sentimeter dan kedalaman air tiga puluh lima sentimeter. Ukuran kolam sekecil itu tidak sesuai dengan keadaan ikan saat ini. Tambah hari ikan berkembang tambah besar, namun ukuran kolam tidak ditambah, hanya asupan makanan yang disesuakan dengan kebutuhan ikan.

Setiap ada tamu pasti meluangkan waktu untuk melihat sambil basa-basi membahas keadaan ikan dan kondisi kolam. Seratus persen tamu-tamuku tak ada yang percaya, kalau ikan tersebut mulai dipelihara sejak masih berukuran sebesar jari kelingking balita. Itu menunjukan bahwa  yang pertama aku dianggap bagian dari mereka yang suka berbohong, yang kedua aku dianggap bagian dari mereka yang suka dengan hal-hal yang bersifat instant, yang ketiga kita memang hidup dalam pusaran budaya yang tidak mau memahami suatu proses, tidak mengerti terjadinya suatu proses dan yang lebih fatal lagi kita tidak mau melakukan suatu proses untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Semua serba instant.

Ikandiberi asupan makan sehari semalam empat kali, pagi, tengah hari, sore dan tengah malam. Asupan makanan disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan ikan. Air selalu mengalir sepanjang hari sehingga kejernihan tetap terjaga dan ditambah pompa air berukuran kecil sebagai alat untuk mensuplai oksigen. Apabila tengah hari aku tidak bisa memberikan asupan makanan, maka ada orang lain yang menggantikan tugasku. Apabila tengah malam aku tertidur, maka ada petugas lain yang mampu menggantikan kewajibanku memberikan asupan makanan. Ikan-ikan tersebut tumbuh dengan baik dan sekarang berat tubuhnya rata-rata tiga kilogram. Tak seorangpun percaya walau ikan-ikan tersebut diproses dengan baik selama tiga tahun.

Pendidikanadalah proses. Kalau pendidikan diproses dengan baik maka hasilnya pasti baik. Terkadang oknum guru kecewa dengan hasil pendidikan. Siswa malas belajar, siswa suka mencontek, siswa suka membolos, siswa suka berantem, siswa  suka melanggar peraturan sekolah, siswa tidak sopan, siswa jorok, siswa buang sampah sembarangan, siswa tertidur di kelas, siswa malas bawa buku, siswa malas beribadah, siswa berdo’a agar gurunya sakit.

Tetapibukan guru kalau mau disalahkan. Siswa, keluarga dan lingkungan masyarakat yang selalu di kambinghitamkan. Instrospeksi merupakan jalan terbaik. Mungkin belum membuat perencanaan pembelajaran, tidak pernah melakukan analisis, mengajar dengan metode yang tidak tepat, tidak mengerti psikologi siswa, tidak memahami perasaan siswa, atau bahkan tidak punya administrasi pendidikan. Apabila mengajar tanpa itu semua, berarti pembelajaran dilakukan dengan kurikulum abal-abal. Asal buka gerbang, asal buka pintu, asal buka tas, asal buka buku, asal buka mulut, asal buka laptop, asal buka soal, asal-asalan semua.

“Satu lagi Bro”, usul Caciem.
“Apaan itu?”, tanya Bento.
“Asal jangan buka rahasia pribadi gurumu”, jelas Caciem.
‘Eh…tulisan diatas kan bagian dari rahasia guru”, jelas Bento.
“Ya…tapi jangan ditelanjangi, kasihan”, tegas Caciem.

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post