18 Februari 2015

Mengajar Tanpa Perasaan




Seandainyasebelum aku lahir, Tuhan menawari diriku pengin dilahirkan sebagai anaknya siapa, pasti aku tidak miskin, tidak hitam kulitku, tidak keriting rambutku, tidak jelek mukaku, tidak bocor rumahku, tidak bau kamar mandiku, tidak kumal bajuku, tidak di kampung rumahku, tidak kosong sakuku, tidak jadul hand pone-ku, tidak kurus badanku, tidak tepos sepatuku, tidak prothol sepedaku, tidak sedih hatiku, tidak jeblok nilai raportku, tidak dimarah-marah guruku, tidak diusir dari kelas oleh guruku, tidak disuruh pulang ambil buku oleh guruku, tidak dihukum lari oleh guruku dan tidak disuruh potong rambut oleh guruku. Karena aku memilih dilahirkan sebagai anaknya seorang presiden.

Namun keberadaan ini adalah suatu takdir yang tidak bisa ditolak. Kelahiranku hanyalah sebagian kecil dari suatu budaya yang berkembang di suatu tempat. Apapun yang terjadi harus kita terima dengan ikhlas. Tak perlu menghujat orang tua  apalagi melawan takdir. Walaupun manusia diberi akal yang lebih di banding binatang, manusia perlu belajar dengan insting binatang yang bisa menerima apa adanya, karena manusia tidak mengerti apabila  ada binatang yang protes terhadap Tuhannya.

Akubisa menerima keadaan dengan apa adanya, tetapi keberadaanku selalu jadi bahan hinaan oleh guru-guruku. Setiap ketemu selalu memanggilku “JELITENG” karena kulitku hitam, guruku memanggilku “MONYET” karena wajahku jelek, guruku memanggilku “KEREMPENG” karena tubuhku kurus, guruku memanggilku “CEREWET” karena aku banyak omong, guruku memanggilku “BODOH” karena otakku bebal, guruku memanggilku “MERONGOS” karena gigiku agak panjang, guruku memanggilku “NEGRO” karena rambutku keriting dan kulitku hitam, guruku memanggilku “CEKO” karena tanganku tidak normal, guruku memanggilku “PETHUK” karena aku tidak bisa berhitung, guruku memanggilku “LEMPUNG” karena aku tukang ngantuk, guruku memanggilku “GEMBROT” karena tubuhku gemuk, guruku memanggilku “ENTHUNG” karena aku malas berpikir, guruku memanggilku “MALING” karena aku suka mencontek, guruku memanggilku “IBLIS” karena aku suka mengganggu teman, guruku memanggilku “KERE” karena orang tuaku miskin, guruku memanggilku “ASU” karena aku sering cekcok, guruku memanggilku “BAJINGAN” karena aku sering bikin gaduh di kelas.

Menurutku,tidak ada manusia yang sempurna. Diantara kita pasti ada kelemahan dan kelebihan yang tersembunyi. Seandainya aku nanti penjahat, dia akan aku bunuh secara sadis. Seandainya aku nanti jadi polisi, dia akan aku tembak kepalanya, seandainya aku nanti jadi jagal, dia akan aku cincang seperti kambing guling. Seandainya aku nanti jadi uztad, dia akan aku ajak mengaji. Seandainya aku nanti jadi guru, dia akan aku ajari bicara yang sopan dan santun.

“Emangnya dia tu guru apaan?”, tanya Caciem dengan keheranannya. “Semua guru”, jawab Bento singkat. “Masak semua guru kayak gitu?”, tegas Caciem. “Semua guru kalau sedang marah pasti begitu”, jawab Bento. “Kenapa gurumu marah?”, kejar Caciem. “Karena guruku berlagak penguasa”, terang Bento.

“Berarti gurumu itu mengajar tanpa skenario yang baik”, ujar Caciem.
“Bukan begitu, tapi guruku mengajar tanpa perasaan”, jelas Bento.
“Ya…Sabar  ja, tak perlu tersinggung”, saran Caciem.
Cas cis cus… cas cis cus”, gerutu Bento.         

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post