12 Juli 2009

Mimpi Buruk Revolusi Pendidikan Berbasis Teknologi


Guru atau pendidik yang tak bisa bepacu dengan perkembangan teknologi dipastikan akan mengalami masalah. Guru bisa kalah dengan siswanya yang aktif meng-apdate pengetahuannya. Ini membuat para guru kehilangan kharisma dan wibawanya. Contoh seorang guru di Tiongkok tahun 2005 bunuh diri karena pengetahuannya kalah dengan siswanya yang didapat dari internet. Contoh lagi di Jerman seorang guru mengundurkan diri dari profesinya karena siswanya lebih pintar dalam mengakses internet pada saat jam istirahat (Ardhie Raditya, Suara Merdeka, 6 Juli 2009).

Diskripsi diatas adalah contoh kenyataan seorang guru yang masih Gaptek (Gagap Teknologi). Guru yang tidak mengikuti perkembangan amat sangat menghambat perkembangan pendidikan dewasa ini. Idealnya guru harus menguasai ICT (Information Comunication Teknologi) dengan baik. Dengan demikian proses pembelajaran bisa berlangsung dengan sempurna. Perkembangan pengetahuan dan teknologi selalu bisa dihadirkan disetiap pertemuan di depan kelas. Mungkin inilah gagasan saudara Ardhie Raditya yang merunut dari “Revolusi Edukasi Berbasis Teknologi” gagasan Nicholas Negroponte, ahli komputer dari MIT-AS.

Gagasan tersebut memang sangat bagus untuk pendidikan di Indonesia. Namun yang perlu di pikirkan adalah kapan dimulai revolusi pendidikan berbasis teknologi. Tentunya guru-guru Indonesia sudah ketinggalan jauh dengan negara-negara Eropha. Tetapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali melakukan revolusi pendidikan. Revolusi pendidikan obyeknya adalah guru dulu, sehingga kemampuan guru tentang ICT bisa setara dengan siswanya.

Bagaimana guru-guru di Indonesia…?
Disalah satu SMP Negeri di Kabupaten Klaten mempunyai 42 guru. Dari 42 guru tersebut hanya 5 guru yang bisa mengoperasikan komputer dengan baik. Sementara dari 5 guru tersebut hanya 3 yang bisa mengakses internet. Dari 3 guru yang bisa mengakses internet, hanya 1 guru yang aktif mengakses internet. Sementara yang 37 guru masih Gaptek dan tetap rajin bergelut dengan pensil, kapur, buku-buku tebal dan ceramah di depan kelas. Seorang guru Golongan IV A yang ingin memiliki komputer satu unit saja harus berpikir berulang-ulang. Ironisnya guru tersebut harus menggadaikan SK-nya di Bank untuk bisa membeli satu unit komputer. Yang lebih memalukan guru-guru di SMP tersebut tidak mau belajar komputer, gemetar mendekati komputer dan apabila disuruh belajar komputer merasa dirinya sudah terlambat.

Di SMP tersebut mendapat beberapa guru baru. Guru-guru baru itu sarjana S-1 lulusan antara tahun 2000 sampai 2008. Mestinnya bisa menguasai komputer, tetapi kenyataannya kemampuan mengoperasikan komputer sangat terbatas. Bahkan masih kalah dengan anak SMP kelas 7. Sebab siswa kelas 7 sudah bisa mengkses internet dan membuat E-mail sementara guru baru tersebut belum pernah mengakses internet. Hal ini perlu dipertanyakan kompetensi pengetahuan dan ketrampilan semasa di perguruan tinggi. 

Siswa selalu mengikuti perkembangan teknologi karena ada guru yang membimbing, maka siswa di SMP tersebut merasa gaul dan tidak Gaptek lagi. Pembelajaran seperti ini membuat siswa percaya diri dan tidak canggung untuk berhubungan dengan dunia maya. Siswa mencari artikel untuk membuat kliping tidak perlu mencari koran bekas, tetapi tinggal copy paste melalui internet. Sedangkan guru-gurunya tidak tahu istilah “copy paste” seperti yang dilakukan oleh siswanya. 

Revolusi Pendidikan kapan…?
Fenomena di salah satu SMP Negeri tersebut membuat hati menjadi tak sabar untuk melakukan revolusi pendidikan berbasis teknologi. Namun sarjana pendidikan lulusan antara tahun 2000 sampai 2008 saja tidak bisa menguasai ICT dengan baik, maka perlu waktu yang tepat yaitu tahun 2025 untuk melaksanakan revolusi pendidikan berbasis teknologi secara global. Mestinya pengangkatan guru baru harus melalui tes pengetahuan dan ketrampilan penguasaan ICT. Kalau guru tidak mau belajar komputer mulai dari sekarang, dipastikan guru-guru di Indonesia senasib dengan guru di Tiongkok dan di Jerman. Sebab guru-guru di SMP tersebut sekarang sudah ketinggalan jauh dengan siswanya, guru merasa malu dan merasa gaptek tetapi tidak mau belajar ICT. Jadi revolusi pendidikan berbasis teknologi di Indonesia hanyalah mimpi buruk di siang hari.

Penulis Asim Sulistyo
Pemerhati Pendidikan dan Masalah Sosial
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten


0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post