25 Februari 2009

Profil Pelajar Miskin Indonesia 2009.


Profil Pelajar  Miskin Indonesia 2009
Pergi Tak Sarapan, Tanpa Uang Saku dan Pulang Sekolah Baru Mulai Memasak.

Siswa di salah satu SMP di Klaten, pergi sekolah tanpa sarapan dan tanpa uang saku. Sesampai di sekolah, siswa tersebut meminta uang temannya dengan paksa (memalak). Puluhan temannya telah menjadi korban pemalakan. Setiap teman diminta antara Rp 500,- sampai Rp 1000,-. Setiap hari ada dua anak yang dimintai uang, dan hari berikutnya meminta teman yang lain. Dalam meminta uang, memilih teman laki-laki yang dianggap penakut secara bergiliran dan dengan ancaman tertentu. Apabila temanya tidak memberi uang, mereka diancam akan dipukuli atau di keroyok teman-temannya. 

Ada beberapa teman yang menjadi langganan untuk dimintai uang. Sehingga, anak yang menjadi langganan tersebut harus menyembunyikan uangnya di dalam sepatu, agar si-pemalak tidak tahu. Sebab, kalau sedang meminta dan dijawab tidak punya, si-pemalak tidak percaya lalu menggeledah saku baju dan celana calon korbannya. 

Dalam satu tahun, si-pemalak berhasil memalak teman-temannya ± Rp 750.000,-. Namun, uang pamalakan itu tidak semuanya di pakai sendiri. Sebab, ada beberapa teman sekelasnya yang juga diajak untuk menikmati uang tersebut. Karena uang tersebut tidak selalu dihabiskan untuk jajan di kantin sekolah, tetapi untuk jajan di warung kucing dekat rumah si-pemalak. 

Kasus ini terungkap setelah ada laporan salah satu orang tua siswa yang menjadi korban pemalakan kepada pihak sekolah. Selanjutnya pihak sekolah melakukan klarifikasi ke beberapa pihak. Dan ternyata, pemalakan ini telah dilakoni selama 2 tahun, sejak si-pemalak baru kelas VII dan baru terungkap setelah si-pemalak kelas VIII. 

Profil si-Pemalak.
Si-pemalak adalah dari keluarga miskin di Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Setiap harinya, tinggal di rumah sederhana bersama adik perempunnya yang baru kelas VI SD. Bapaknya berdagang es di kota Cilacap, Ibu dan Kakaknya mencari nafkah di Kalimantan. Praktis dua anak ingusan ini hidup sendiri tanpa pengawasan dan bimbingan orang tuanya. Sementara sanak famili dan tetangganya, tak pernah peduli dengan anak-anak ini. 

Dalam setiap bulanya, kedua anak ini dikirimi uang dari orang tuanya untuk biaya hidupnya. Menurut pengakuannya, uang kiriman tidak cukup untuk biaya hidup satu bulan. Setiap pagi berangkat ke sekolah, kedua anak ini tidak pernah sarapan dan ketika pulang sekolah ± pukul 13.00 WIB, kedua anak ini tidak bisa langsung makan tetapi harus memasak dulu. Setelah ± pukul 14.30 WIB, kedua anak ini baru bisa makan. Jenis menu makannyapun, setiap hari hanya nasi, kerupuk dan mie instant.

Berangkat ke sekolah sering terlambat, dan baru pukul 09.00 WIB, anak ini sudah mengantuk dan tidur, kepalanya ditaruh diatas meja belajar. Pekerjaan rumah (PR dari sekolah) tidak pernah dikerjakan. Didalam kelas tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, sehingga selalu menjadi bulan-bulanan guru yang sedang mengajar. Sering dikeluarkan dari kelas karena anak ini tidak membawa buku pelajaran, tidak mengerjakan tugas dari guru dan tidak memperhatikan gurunya yang sedang mengajar. Setiap ulangan selalu mendapatkan nilai yang jelek/dibawah rata-rata kelas, sehingga saat pembagian raport nilanya selalu ranking terbawah di kelasnya.

Setiap di panggil ke kantor guru atau Bimbingan Konseling (BP), anak ini selalu menunjukan sikap penyesalannya, sambil menangis. Selalu berjanji untuk tidak melakukan pelanggaran tata tertib sekolah, tetapi di lain waktu selalu mengulang-ulang pelanggaran tata tertib. Badan kurus, muka pucat, baju kumal dan seperti tidak pernah mandi dan anak ini sepintas kelihatan kurang sehat. Dalam pergaulan, anak ini kelihatan kurang percaya diri, mudah tersinggung dan marah. 

UUD 1945 Bab XIII, pasal 31, Ayat 1…
Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
UUD 1945 Bab XIV, pasal 34…
Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara.

Fenomena ini hanyalah salah satu contoh profil pelajar Indonesia di tahun 2008. Sementara kisah nyata yang mirip dengan fenomena ini jumlahnya jutaan pelajar, bahkan tersebar di seluruh wilayah Indonesia tak terkecuali di kota metropolitan, Jakarta.

Penulis : Asim Sulistyo.
Pemerhati Pendidikan dan Sosial.
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten. 



0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post