25 Februari 2009

Keunggulan dan Kearifan Lokal dalam Program MPMBS di Sekolah Menengah.



Keunggulan dan Kearifan Lokal dalam Program MPMBS di Sekolah Menengah.

Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagai pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah atau untuk mencapai tutjuan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Sekolah memiliki kewenangan lebih besar untuk mengelola dan pengambilan keputusan partisipatif. 

MPMBS bertujuan memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan, keluwesan, dan sumberdaya untuk meningkatkan mutu output sekolah. Sehingga masing-masing sekolah mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dalam hal input dan output.
(Depdiknas, 2000).

Karakteristik MPMBS adalah program pendidikan dengan kurikulum yang berbasis kedaerahan, dimana setiap sekolah dituntut untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan berdasar pada keunggulan lokal. Lingkungan dan potensi daerah perlu dimasukan dalam kurikulum pembelajaran, sehingga siswa bisa belajar dan mengembangkan potensi diri dan daerahnya, sesuai keadaan dan kemampuan yang didasarkan pada keunggulan lokal. 

MPMBS ini memungkinkan lembaga pendidikan memasukan kurikulum yang berbasis kinerja dan ketrampilan bagi siswa. Dengan program ini diharapkan siswa di daerah/desa akan berbeda dengan siswa di perkotaan. Kurikulum pembelajaran dituntut untuk menyesuaikan keadaan, dimana kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa akan berkembang berdasarkan kebutuhan di daerahnya masing-masing. Sehingga siswa setelah lulus sekolah, tidak harus mencari pekerjaan ke kota, tetapi cukup di daerahnya sendiri untuk bisa mengembangkan dan memanfaatkan hasil pembelajaran dari sekolahnya. 

Sekolah yang bertempat di desa, maka harus mengembangkan potensi daerahnya melalui pembelajaran di kelas. Misalnya sekolah desa yang mempunyai keunggulan lokal bidang pertanian, maka sekolah tersebut harus memasukan kurikulum pertanian melalui mata pelajaran Muatan Lokal Pertanian. Tentu program ini sangat bermanfaat bagi siswa yang tinggal di daerah yang mayoritas penduduknya bertani. Sehingga, apabila siswa hanya mampu sekolah pada tingkat SLTP dan tidak bisa melanjutkan ke SLTA, siswa tersebut sudah mempunyai bekal untuk bertani yang baik dan benar. 

Dalam pelaksanaan pembelajaran, tentu perlu pembimbing yang sesuai dengan bidangya. Oleh karena itu sekolah dengan dana yang cukup, pembimbing tidak harus guru yang mengajar setiap harinya, tetapi bisa bekerja sama dengan instansi terkait, tokoh masyarakat dan para ahli professional di bidangnya. Apabila yang menjadi keunggulan lokal bidang pertanian, maka bisa meminta bantuan dari Dinas Pertanian untuk bisa membimbing serta memberikan pelatihan siswa di sekolah dan apabila yang menjadi keunggulan lokal adalah bidang garment, maka sekolah bisa meminta tokoh masyarakat yang bisa membuat pakaian (penjahit), untuk bisa membantu membimbing siswa dalam hal ketrampilam membuat pakaian (menjahit). 

Untuk itu pemerintah perlu menggelontorkan dana dalam bentuk program kontrak kerja Biaya Operasional Manajemen Mutu (BOMM). Agar bisa berjalan maksimal, satu program kerja (satu mata pelajaran) minimal di alokasikan dana pendamping sebesar Rp 30.000.000’-.

Jadi, siswa sekolah pinggiran/daerah terpencil/desa, tidak perlu mempelajari jenis mata pelajaran yang berifat umum. Siswa tidak harus belajar materi UN/UNAS sampai menghabiskan energi yang berlebihan. Sebab, materi UN/UNAS SLTP akan menjadi limbah bagi siswa yang tidak melanjutkan ke SLTA, begitu juga materi UN/UNAS SLTA tak begitu berguna bagi siswa yang tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi. 

Buat apa nilai UN/UNAS …?
Siswa yang lulus SLTP kemudian menjadi peternak, petani, penjahit, pengusaha garment, hal ini tidak perlu bersusah-payah untuk mendapatkan nilai UN/UNAS yang bagus. Tetapi yang terpenting adalah pembelajaran yang bersifat ketrampilan dan aktual. Karena materi UN/UNAS adalah mata pelajaran yang bersifat abstrak dan kurang arif. Sementara siswa perlu mata pelajaran yang arif dan aktual, untuk mengembangkan potensi diri dan daerahnya, dengan berbasis ekonomi kreatif. Dengan program ini, otomatis akan tercipta lapangan-lapangan kerja baru.

Penulis : Asim Sulistyo.
Pemerhati Pendidikan dan Sosial.
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten 



0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Buku Murah

Masukkan Code ini K1-BE118B-2 untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Recent Post